Recent Tube

Wisata

Berita Ekonomi

Favourite

Event

Culture

Gallery

Perang Hunain Adalah Kemenangan Besar Kaum Muslimin






Perang Hunain adalah perang yang terjadi antara nabi Muhammad SAW dan para sahabat dan kaum muslimin melawan kaum Badui dari suku Hawazin dan Tsaqif pada tahun 630 M atau 8 H di suatu jalan dari Mekah ke Thaif.
Dalam perang Hunain tersebut kaum muslimin selain menang besar juga mendapatkan ghanimah (harta rampasan perang). Perang Hunain tersebut juga merupakan salah satu pertempuran yang terdapat di dalam Al-Qur’an, yaitu surah At-Taubah: 25-26.
Ketika itu kaum muslimin hendak mengepung Makkah. Rencana tersebut diketahui oleh suku Hawazin dan para sekutunya dari suku Tsaqif. Mereka menyiapkan pasukan dan ingin menyerang pasukan muslimin.
Namun penaklukan Makkah berjalan dengan cepat dan damai. Dan nabi Muhammad SAW memerintahkan kaum muslimin untuk bergerak menuju Hawazin dengan kekuatan 12.000 orang yang terdiri dari 10.000 kaum muslimin dan ditambah 2.000 orang Quraisy yang baru masuk Islam.

Akan tetapi penaklukan Makkah sudah terjadi sekitar dua minggu. Dan berita tentang penyerangan oleh kaum Hawazin terhadap kaum Muslimin baru terdegar. Sehingga kaum muslimin bersiap-siap untuk menghadapi kaum Hawazin.
Ketika pasukan muslimin bergerak menuju daerah Hawazin, kaum Badui menyergap dan menyerang kaum muslimin di lembah sempit yang bernama Hunain. Penyergapan dan peyerangan tersebut mengejutkan kaum muslimin.
Dengan terjadinya peristiwa tersebut, pasukan muslimin mulai mundur dalam keadaan kocar-kacir. Terutama pasukan dari Quraisy yang baru masuk islam, bukannya membantu malah mengatain Rasulullah SAW dan pasukan muslimin yang masih bertahan.
Ketika dalam keadaan kritis, sepupu Rasulullah SAW Ali bin Abi Thalib dan pamannya Abbas berteriak dan meyeru mengumpulkan pasukan muslimin yang kocar-kacir. Akhirnya pasukan muslimin bisa bersatu dan bertahan. Keadaan membalik kepada pihak kaum muslimin.
Rasulullah SAW menyeru untuk serangan secara umum dan memukul mundur pasukan kaum Badui. Pasukan musuh melarikan diri dalam dua kelompok. Rasulullah SAW memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyerang kembali.
Pasukan musuh yang melarikan diri menjadi kelompok tersebut menuju ke Authas yang salah satunya ada Malik bin Auf an-Nasri, dan kelompok yang lainnya menuju Nakhla. Yang tadinya kaum muslimin hampir kalah, akhirnya bisa menang.
Dalam perang Hunain tersebut selain menang, pasukan muslimin juga mendapatkan ghanimah atau harta rampasan perang. Hasil dari ghanimah tersebut jumlahnya cukup besar. Dan kemenangan tersebut karena mengikuti perintah pemimpin.
(satujam.com)

Banyak Pelajaran Yang Di Dapat Dari Peristiwa Perang Karbala





Sejarah berdirinya dan kejayaan Islam tidak terlepas dengan berbagai konflik bahkan peperangan besar juga menyertainya,salah satunya Perang Karbala, ,terjadi pada tanggal 10 Muharram, tahun ke-61 yang bertepatan dengan 9 atau 10 Oktober 680 di Karbala, yang saat ini terletak di Irak. Pertempuran ini terjadi antara pendukung dan keluarga dari cucu Nabi, Husain bin Ali dengan bala tentara pasukan yang dikirim oleh Yazid bin Muawiyah, yang pada saat itu menjabat sebagai Khalifah Bani Umayyah.
Dari pihak Husain terdiri dari anggota-anggota terhormat keluarga dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sekitar 128 orang. Husain dan beberapa anggota juga diikuti oleh beberapa wanita dan anak-anak dari keluarganya. Di pihak lain, pasukan bersenjata Yazid I yang dipimpin oleh Umar bin Sa’ad berjumlah 4.000-10.000.
Pertempuran ini kemudian diperingati setiap tahunnya selama 10 hari yang dilaksanakan pada bulan Muharram oleh kaum Syi’ah seperti halnya segolongan kaum Sunni, di mana puncaknya pada hari kesepuluh, atau hari ‘Asyura.

Peringatan hari asyura yang sering umat muslim lakukan terutama umat muslim yang ada di Indonesia, merupakan sebuah kegiatan untuk memperingati peristiwa besar dan penting. Yaitu peristiwa Karbala yang mana pada peristiwa besar itu melibatkan tokoh-tokoh besar dan penting dalam Islam. Mereka adalah keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang selalu disebut sebagai Ahlul Bait.
Pada peristiwa tersebut mengandung banyak sekali pelajaran-pelajaran berharga yang bermanfaat dan dapat dijadikan contoh teladan bagi kehidupan umat di bumi ini. Peristiwa besar yang selalu diperingati pada bulan Muharram tepatnya pada hari kesepuluh yang merupakan puncak dari peristiwa Karbala.
Dapat kita ketahui kebangkitan ‘Asyura memiliki dampak-dampak keagamaan, individual dan sosial, serta memiliki ciri-ciri khusus dan pelajaran yang tidak ada dalam peristiwa-peristiwa lain. Di antara ciri-ciri dan pelajaran tersebut ialah:
  1. Menyatunya antara haq dan hakekat dalam bentuknya yang abadi dan agung.
  2. Dapat diartikan bahwa kebangkitan Imam Husein beserta sejumlah keluarga dan pengikutnya, membuktikan bahwa kebenaran dan hakekat masih hidup serta siap bertahan sampai titik darah penghabisan dengan segala bentuk pengorbanannya di hadapan kebatilan dan kezaliman.
  3. Dalam tragedi Karbala ini, kezaliman yang sangat keji dan kesesatan yang sedemikian parahnya, dapat disaksikan dengan jelas dan nyata.
  4. Peristiwa Karbala, menjadi simbol teriakan kaum tertindas di sepanjang zaman.
  5. Sisi kebenaran dan sisi kebatilan menemukan bentuknya yang sangat jelas dan utuh dalam tragedi ini sehingga setiap orang dapat membedakannya dengan mudah, mana yang benar dan mana yang batil.
  6. Nilai-nilai yang dapat diambil sebagai pelajaran dari tragedi asyura tidak terbatas pada tempat dan masa tertentu. Tetapi nilai-nilai tersebut juga bersifat universal.
Mudah-mudahan kita semua menjadi orang yang cinta kepada para Ahlul Bait dan para sahabat Nabi. Wallahu a’lam bi al-showab.

(satujam.com)

Abdul Muthallib Kakeknya Rasulullah Dan Tahun Gajah




Kisah ini akan membuat kita memahami bagaimana kondisi saat tahun kelahiran Rasulullah, yakni tahun gajah. Setelah penduduk Nasrani di Yaman dibakar hidup-hidup oleh rajanya, ada satu orang yang selamat. Orang ini berpergian untuk menemui kaisar Romawi.
Ia menemui kaisar Romawi karena ia beragama Kristen. Orang-orang ini berasal dari aliran Kristen yang berbeda. Saat itu bangsa Romawi sudah mengadopsi trinitas dan ketuhanan Isa as.
Orang yang selamat ini menceritakan apa yang telah ia alami dan meminta pertolongan. Kaisar Romawi berkata, “Kami berada terlalu jauh dari Yaman. Yang bisa  saya lakukan adalah mengirimkan pesan ke Najasyi raja Habsyi. Ia akan menolongmu.” Raja Najasyi dari Habsyi (Ethiopia) juga beragama Kristen.

Strategi curang Dhu Nawas

Najasyi mengirimkan pasukan yang dipimpin oleh Jenderal Aryat. Pasukan Aryat menyerang Yaman dan bertarung dengan Dhu Nawas. Saat Dhu Nawas mengalami kekalahan, ia bunuh diri dengan menenggelamkan diri ke Laut Merah.
Setelah kemenangan itu Habsyi menguasai Yaman. Ini mereka lakukan untuk membalas dendam umat Kristiani yang dibunuh oleh orang-orang Yahudi Yaman. Aryat menguasai Yaman untuk beberapa lama. Hingga salah satu jenderalnya memberontak dan orang Habsyi di Yaman kini terbagi 2 faksi, kelompok pendukung Aryat dan kelompok lain dipimpin oleh Abrahah.
Aryat berkata pada Abrahah, “Jika kita saling bertempur, penduduk asli Yaman akan mengambil alih kekuasaan. Bagaimana kalau kita bertarung satu lawan satu?” Abrahah membuat perjanjian rahasia dengan pengawalnya. Jika mereka melihat Abrahah kalah, mereka akan ikut membantu.
Aryat ini perawakannya tinggi sementara Abrahah pendek dan gemuk. Ada orang-orang di sekeliling mereka saat keduanya bertarung. Aryat berhasil menebas Abrahah hingga hidungnya terpotong. Saat itulah pengawal Abrahah datang dan membunuh Aryat.

Kisah di balik sejarah tahun Gajah, tahun kelahiran Muhammad

Sekarang Abrahah mengambil alih kekuasaan sebagai pemimpin Yaman. Abrahah ingin mengubah agama penduduk dan memaksa mereka menganut agama Kristen. Selain itu karena orang-orang Arab sangat terikat dengan Kabah, ia memutuskan untuk membuat tandingan Kabah di Yaman.
Abrahah membangun katedral besar yang disebut Al-Qullais. Bangunan ini digambarkan sebagai karya seni yang mengagumkan. Katedral ini didesain untuk mengalahkan Kabah. Seorang pria tidak suka katedral ini. Ia masuk ke Qullais lalu buang air besar. Kotorannya ini ia sebarkan di dinding katedral lalu melarikan diri.
Abrahah marah besar. Ia memutuskan kalau ia harus menghancurkan Kabah. Abrahah membawa satu pasukan besar dan berangkat ke Mekkah. Di perjalanan ada beberapa pemberontakan dari pasukannya. Salah satu pemimpin kabilah bernama Nufail melawan. Namun ia berhasil dikalahkan dan ditangkap  sebagai tawanan perang.
Saat Abrahah mencapai Thaif. Penduduk Thaif membantu Abrahah dan salah satunya menawarkan diri untuk menjadi penunjuk arah. Orang ini bernama Abu Raghadi.
Abu Raghadi berangkat bersama pasukan Abrahah namun beberapa saat setelah meninggalkan Thaif, ia meninggal. Orang-orang Arab sangat kesal pada Aryat. Mereka membangun tugu untuk memperingati kematiannya. Tugu itu mereka lempari batu karena pengkhianatan Aryat.
Abrahah akhirnya tiba di perbatasan kota Mekkah. Ada beberapa penggembala dengan unta-untanya di sana. Abrahah merampas unta-unta mereka. Unta-unta ini ternyata milik kakek Rasulullah saw, Abdul Muttallib.
Abdul Muttallib pergi menemui Abrahah. Abdul Muttallib ternyata sahabat Nufail, yang ditangkap sebagai tawanan perang. Selama perjalanan menuju Mekkah, Nufail menjadi  bersahabat dengan Unais, salah satu orang penting di prajurit Abrahah. Unais adalah pengendara gajah.
Abdul Muttallib menemui Nufail dan mengatakan kalau ia ingin bertemu Abrahah. Nufail berkata kalau ia akan mengatur waktu bertemu lewat temannya Unais. Pertemuan dnegan Abrahah pun berhasil dibuat oleh Unais, Abrahah menyambut Abdul Muttallib.
Abrahah datang. Ia dikenal sebagai orang dengan perawakan yang kuat. Orang-orang akan terkagum-kagum hanya dengan melihatnya. Saat Abdul Muttallib masuk, Abrahah menaruh hormat padanya walau mereka belum sempat berbicara.
Biasanya saat orang-orang menemui Abrahah, ia akan duduk di singgasananya sementara orang-orang akan duduk di bawah kakinya. Saat Abrahah melihat Abdul Muttallib, ia merasa tidak nyaman melihat Abdul Muttallib duduk di bawah kakinya. Namun ia juga tidak mau Abdul Muttallib duduk di atas singgasananya. Abrahah pun turun dari singgasananya dan duduk di lantai bersama Abdul Muttallib. Abrahah meminta penerjemah untuk menanyakan keinginan Abdul Muttallib.
Tanpa basa-basi, Abdul Muttallib berkata  pada penerjemah, “Abrahah telah merampas 200 unta milikku. Saya ingin unta-unta itu dikembalikan.” Abrahah membalas, “Saat melihatmu, saya merasa penuh hormat. Namun kini rasa  hormat itu lenyap. Saya datang untuk menghancurkan kehormatanmu dan juga kehormatan nenek moyangmu. Saya datang untuk menghancurkan kehidupanmu. Saya datang untuk menghancurkan Kabah. Dan kau hanya memintaku untuk mengembalikan unta?”
“Saya adalah pemilik unta. Saya bertanggung jawab atas unta-unta itu. Sementara rumah ini milik Allah. Allah akan melindunginya,” jawab Abdul Muttallib. Abrahah pun memerintahkan pasukannya untuk mengembalikan unta-unta Abdul Muttallib.
Saat kembali ke Mekkah, Abdul Muttallib mengumumkan, “Jangan berperang, keluarlah dari Mekkah.” Abdul Muttallib memberi instruksi yang sangat jelas. Mereka semua pergi ke atas gunung. Abdul Muttallib menjadi orang terakhir yang meninggalkan Mekkah. Sebelum berangkat ia menggantungkan kain Kabah di pegangan pintu Kabah. Ia berdoa supaya Allah melindungi rumah ini lalu pergi.
Abrahah memerintahkan pasukannya untuk maju. Namun gajah menolak untuk maju. Saat mereka memalingkan gajah ke arah yang berlawanan dari Mekkah, gajah mau berlari. Namun ketika menghadap  Mekkah, gajah hanya duduk  diam. Inilah keajaiban yang Allah turunkan.
Namun ada satu riwayat yang mengisahkan kalau Unais berhasil melepaskan rantai gajah lalu berbicara di telinga gajah, “Ini adalah rumah Allah, jangan serang.” Lalu Unais melarikan diri. Apa pun penyebabnya, gajah menolak untuk bergerak.
Mereka mulai menyiksa gajah, menusuk-nusuknya dengan  tombak. Walau berdarah, gajah tetap tak mau bergerak. Pasukan Abrahah pun memutuskan untuk berperang tanpa bantuan gajah. Namun saat mereka mulai bergerak, Allah swt mengirimkan pasukan-Nya.
Makhluk apa pun bisa menjadi pasukan Allah, baik itu air, angin, maupun binatang-binatang. Allah mengirimkan pasukan burung. Tiap burung membawa misil yang dihujankan ke pasukan Abrahah dan menghancurkan mereka. Kejadian ini Allah catat dalam Surat Al-Fil.
Kejadian ini berlangsung pada tahun Rasulullah saw dilahirkan. Rasulullah saw dilahirkan pada tahun gajah.(satujam.com)

Kisah Peperangan Khaibar






Perang Khaibar adalah salah satu dari peperangan kaum muslimin yang terjadi dimasa Rasullah SAW.Yang mana pada mulanya kaum Yahudi dan kaum muslimin hidup berdampingan secara damai di Kota Madinah. Tetapi karena kaum Yahudi banyak melakukan pelanggaran terhadap janji yang sudah disepakati, maka Nabi Muhammad SAW mengusir mereka untuk keluar dari Madinah.
Setelah diusir oleh Nabi Muhammad SAW, kaum Yahudi menempati daerah Khaibar yang jaraknya sekitar 150 Km dari Kota Madinah atau sekitar 3 hari perjalanan darat.
Kaum Yahudi yang memiliki dendam terhadap kaum muslimin terus menyusun strategi untuk melakukan pembalasan. Secara kuantitas jumlah mereka sedikit, tetapi kaum Yahudi sangat cerdik dalam menyusun strategi perang.
Mereka membentuk benteng-benteng yang berlapis dan kokoh, bahkan sekelas pasukan Romawi pun tidak sanggup menembus benteng-benteng Khaibar.
Pada tahun ketujuh hijriah, Nabi Muhammad SAW dan pasukan kaum muslimin yang berjumlah 1400 berangkat menuju Khaibar. Pasukan kaum muslimin sudah tiba sebelum waktu subuh dan membuat orang-orang Yahudi terkejut.
Awalnya Abu Bakar dan Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhum memegang komando pasukan dan memegang bendera perang. Tapi mereka belum berhasil menembus benteng pertahanan Khaibar.
Esoknya Rasulullah SAW menyerahkan komando dan bendera perang kepada Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Di bawah komdando Ali bin Abi Thalib, pasukan kaum muslimin berhasil menembus satu demi satu benteng pertahanan kaum Yahudi.
Peperangan Khaibar dimenangkan oleh umat islam di bawah komando Ali bin Abi Thalib. Jumlah pasukan yang syahid dari kalangan umat islam sekitar belasan orang sedangkan jumlah pasukan yang meninggal dari kalangan umat Yahudi mencapai puluhan orang.
Ternyata tidak sampai di sini saja perlakuan umat Yahudi terhadap kaum muslimin, meskipun mereka sudah kalah di Perang Khaibar, tetapi umat Yahudi kembali menyusun strategi untuk melumpuhkan umat islam.
Salah seorang wanita Yahudi berniat membunuh Nabi Muhammad SAW dengan cara menyuguhkan hadiah berupa daging yang sudah dicampuri racun kepada Nabi Muhammad SAW dan para sahabat beliau.
Tatkala Nabi Muhammad SAW memakannya, daging tersebut berkata kepada Nabi SAW bahwa ia sudah dicampur dengan racun. Seketika itu Nabi Muhammad langsung memuntahkannya kembali.
Sedangkan sahabat Nabi yang bernama Bisri bin Baru radhiallahu ‘anhu meninggal dunia pada waktu itu setelah memakan daging tersebut. Akhirnya Nabi Muhammad SAW memerintahkan untuk mencari wanita itu untuk dibunuh sebagai qishosh. 
(satujam.com)

Adab Makan Muslim Harus Menggunakan Tangan Kanan,Mengapa Ya?




ISLAM bukan hanya agama yang mengajarkan tentang percaya kepada Tuhan, cara beribadah atau cara bersyukur, tapi juga mengajarkan banyak hal termasuk dalam kehidupan sehari-hari. Interaksi dengan orang lain, cara bersikap hingga urusan sehari-hari seperti makan juga diatur dengan jelas.
Demikian juga untuk urusan makanan, minuman serta cara dan adab menyantapnya. Seluruh Muslim dianjurkan untuk makan menggunakan tangan kanan karena tangan ini dianggap lebih baik dan lebih mulia dibandingkan tangan kiri.
Nabi Muhammad SAW berkata “Hai anak muda, sebutlah nama Allah dan makanlah dengan tangan kanan serta ambillah makanan yang ada didekatmu” HR Al- Bukhari dan Muslim.
Tidak hanya untuk makan, Rasulullah juga menganjurkan untuk menggunakan tangan kanan ketika hendak melakukan pekerjaan yang bersih. Sementara tangan kiri hanya digunakan untuk melakukan pekerjaan kotor, misalnya membersihkan anggota tubuh usai ke toilet.
HR Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah melarang umatnya makan dan minum menggunakan tangan kiri. “Janganlah kamu makan dan minum menggunakan tangan kiri karena yang makan dan minum menggunakan tangan kiri hanyalah setan.”

Hal ini harus dilakukan bagi setiap orang yang memiliki tangan kanan dalam keadaan sehat dan sempurna. Lain ceritanya jika seseorang mengalami cedera, luka, sakit atau cacat di tangan kanannya, maka hal ini dimaklumkan.(okezone.com)

Riwayat Ka'Bah Dari Masa Ke Masa



Awalnya, Mekkah hanyalah sebuah hamparan kosong. Sejauh mata memandang pasir bergumul di tengah terik menyengat. Aliran zamzamlah yang pertama kali mengubah wilayah gersang itu menjadi sebuah komunitas kecil tempat dimulainya peradaban baru dunia Islam.

Bangunan persegi bernama Ka’bah didaulat menjadi pusat dari kota itu sekaligus pusat ibadah seluruh umat Islam. Mengunjunginya adalah salah satu dari rukun Islam, Ibadah Haji.

Ka’bah masih tetap berdiri kokoh hingga saat ini dan diperkirakan masih terus berdiri hingga kiamat menjelang. Beberapa generasi pernah menjadi saksi berdirinya Ka’bah hingga berbagai kemelut menyelimutinya.

Adalah Ismail, putra Nabi Ibrahim dan Siti Hajar, yang kaki mungilnya pertama kali menyentuh sumber mata air zamzam. Akibat penemuan mata air abadi ini, Siti Hajar dan Ismail yang kala itu ditinggal oleh Ibrahim ke Kanaan di tengah padang, tiba-tiba kedatangan banyak musafir. Beberapa memutuskan untuk tinggal, beberapa lagi beranjak.

Ibrahim datang dan kemudian mendapatkan wahyu untuk mendirikan Ka’bah di kota kecil tersebut. Ka’bah sendiri berarti tempat dengan penghormatan dan prestise tertinggi.

Ka’bah yang didirikan Ibrahim terletak persis di tempat Ka’bah lama yang didirikan Nabi Adam hancur tertimpa banjir bandang pada zaman Nabi Nuh. Adam adalah Nabi yang pertama kali mendirikan Ka’bah.
Tercatat, 1500 SM adalah merupakan tahun pertama Ka’bah kembali didirikan. Berdua dengan putranya yang taat, Ismail, Ibrahim membangun Ka’bah dari bebatuan bukit Hira, Qubays, dan tempat-tempat lainnya.
Bangunan mereka semakin tinggi dari hari ke hari, dan kemudian selesai dengan panjang 30-31 hasta, lebarnya 20 hasta. Bangunan awal tanpa atap, hanyalah empat tembok persegi dengan dua pintu.

Celah di salah satu sisi bangunan diisi oleh batu hitam besar yang dikenal dengan nama Hajar Aswad. Batu ini tersimpan di bukit Qubays saat banjir besar melanda pada masa Nabi Nuh.

Batu ini istimewa, sebab diberikan oleh Malaikat Jibril. Hingga saat ini, jutaan umat Muslim dunia mencium batu ini ketika berhaji, sebuah lelaku yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad.

Selesai dibangun,  Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyeru umat manusia berziarah ke Ka’bah yang didaulat sebagai Rumah Tuhan. Dari sinilah, awal mula haji, ibadah akbar umat Islam di seluruh dunia.

Karena tidak beratap dan bertembok rendah, sekitar dua meter, barang-barang berharga di dalamnya sering dicuri. Bangsa Quraisy yang memegang kendali atas Mekkah ribuan tahun setelah kematian Ibrahim berinisiatif untuk merenovasinya. Untuk melakukan hal ini, terlebih dahulu bangunan awal harus dirubuhkan.
Al-Walid bin Al-Mughirah Al-Makhzumy adalah orang yang pertama kali merobohkan Ka’bah untuk membangunnya menjadi bangunan yang baru.

Pada zaman Nabi Muhammad, renovasi juga pernah dilakukan pasca banjir besar melanda. Perselisihan muncul di antara keluarga-keluarga kaum Quraisy mengenai siapakah yang pantas memasukkan Hajar Aswad ke tempatnya di Ka’bah.

Rasulullah berperan besar dalam hal ini. Dalam sebuah kisah yang terkenal, Rasulullah meminta keempat suku untuk mengangkat Hajar Aswad secara bersama dengan menggunakan secarik kain. Ide ini berhasil menghindarkan perpecahan dan pertumpahan darah di kalangan bangsa Arab.

Renovasi terbesar dilakukan pada tahun 692. Sebelum renovasi, Ka’bah terletak di ruang sempit terbuka di tengah sebuah mesjid yang kini dikenal dengan Masjidil Haram. Pada akhir tahun 700-an, tiang kayu mesjid diganti dengan marmer dan sayap-sayap mesjid diperluas, ditambah dengan beberapa menara. Renovasi dirasa perlu, menyusul semakin berkembangnya Islam dan semakin banyaknya jemaah haji dari seluruh jazirah Arab dan sekitarnya.

Wajah Masjidil Haram modern dimulai saat renovasi tahun 1570 pada kepemimpinan Sultan Selim. Arsitektur tahun inilah yang kemudian dipertahankan oleh kerajaan Arab Saudi hingga saat ini.

Pada penyatuan Arab Saudi tahun 1932, negara ini didaulat menjadi Pelindung Tempat Suci dan Raja Abdul Aziz adalah raja pertama yang menyandang gelar Penjaga Dua Mesjid Suci, Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Pada pemerintahannya, Masjidil Haram diperluas hingga dapat memuat kapasitas 48.000 jemaah, sementara Masjid Nabawi diperluas hingga dapat memuat 17.000 jemaah.

Pada pemerintahan Raja Fahd tahun 1982, kapasitas Masjidil Haram diperluas hingga memuat satu juta jemaah. Renovasi ketiga selesai pada tahun 2005 dengan tambahan beberapa menara. Pada renovasi ketiga ini, sebanyak 500 tiang marmer didirikan, 18 gerbang tambahan juga dibuat. Selain itu, berbagai perangkat modern, seperti pendingin udara, eskalator dan sistem drainase juga ditambahkan.

Saat ini, pada masa kepemimpinan Raja Abdullah bin Abdul-Aziz, renovasi keempat tengah dilakukan hingga tahun 2020. Rencananya, Masjidil Haram akan diperluas hingga 35 persen, dengan kapasitas luar mesjid dapat menampung 800.000 hingga 1.120.000 jemaah. Jika rampung, bagian dalam Masjidil Haram akan dapat menampung hingga dua juta jemaah.

Banjir Ka’bah
Bencana alam yang mungkin sering terjadi di wilayah Mekkah adalah banjir. Terbesar tentu saja pada masa banjir bandang Nabi Nuh. Kala itu seluruh bangunan Ka’bah runtuh. Banjir juga terjadi beberapa kali di masa Nabi Muhammad. Sepeninggalnya, pada masa Khalifah Umar bin Khattab, banjir merusak dinding-dinding Ka’bah.

Salah satu banjir yang sempat terdokumentasikan adalah banjir besar pada tahun 1941. Dalam gambar yang dipublikasikan secara luas, terlihat bagian dalam Masjidil Haram terendam banjir hingga hampir setengah tinggi Ka’bah.

Di beberapa tempat bahkan mencapai leher orang dewasa. Banjir-banjir inilah yang kemudian membuat beberapa tiang mesjid yang terbuat dari kayu menjadi lapuk dan rapuh. Kerajaan Saudi terpaksa harus melakukan perbaikan beberapa kali untuk mengatasi hal ini.

Banjir sering terjadi di Mekkah karena letak geografis kota tersebut yang diapit beberapa bukit. Hal ini menjadikan Mekkah berada di dataran rendah yang letaknya seperti mangkuk. Air hujan tidak dapat dapat mudah diserap oleh tanah, mengingat lahan Timur Tengah yang tandus. Alhasil banjir bisa berlangsung selama beberapa lama. Ditambah lagi, sistem drainase kala itu tidak sebaik sekarang.

Selain banjir, berbagai insiden pertumpahan darah tercatat pernah mewarnai sejarah Masjidil Haram. Mulai dari zaman sebelum Nabi Muhammad lahir hingga ke zaman modern di abad ke 20. Beberapa insiden tersebut diakhiri dengan kemenangan para penguasa Ka’bah.

Serangan Gajah
Serangan terhadap Ka’bah yang paling terkenal terjadi pada tahun 571 Masehi, tahun kelahiran Nabi Muhammad. Kala itu, sebanyak 60.000 pasukan gajah yang dipimpin oleh Gubernur Yaman, Abrahah, berencana menyerbu Mekkah dan menghancurkan Ka’bah.

Negara Yaman adalah salah satu negara Kristen besar kala itu. Sebuah gereja besar yang indah didirikan pada pemerintahan Raja Yaman, Habshah. Gereja tersebut bernama Qullais. Abrahah sebagai pembina gereja bersumpah akan memalingkan pemujaan warga Arab dari Ka’bah di Mekkah ke gerejanya di Yaman.

Alkisah, mendengar hal ini, seorang Arab dari qabilah Bani Faqim bin Addiy tersinggung kemudian masuk ke dalam gereja dan membuang hajat di dalamnya. Abrahah marah luar biasa dan bersumpah akan meruntuhkan Ka’bah. Berangkatlah dia beserta tentara terkuatnya, menunggang 60.000 ekor gajah.

Tidak ada satupun kekuatan kabilah Arab Saudi yang mampu menandingi kekuatan puluhan ribu tentara gajah tersebut. Berdasarkan komando dari kakek Muhammad, Abdul Mutalib, para penduduk Mekkah mengungsi ke puncak-puncak bukit di sekeliling Ka’bah. Berangkatlah rombongan tentara Abrahah menuju Ka’bah, hendak menghancurkan bangunan mulia tersebut.

Menurut kisah, laju tentara gajah terhenti akibat serangan dari ribuan burung Ababil. Burung-burung ini membawa tiga butir batu panas di kedua kakinya dan paruhnya. Dilepaskannya batu-batu tersebut di atas tentara gajah. Batu yang konon berasal dari neraka itu menembus daging para tentara dan gajah-gajah mereka. Sebuah tafsir mengatakan burung-burung itu membawa penyakit cacar yang menyebabkan para tentara Abrahah tewas akibat bisul yang sangat panas.

Inilah sebabnya, tahun penyerangan tentara Abrahah ke Mekkah dinamakan sebagai Tahun Gajah. Kisah ini juga tertulis jelas di surat Al Fiil di kitab suci Al-Quran. “Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).” (Al Fiil: 3-4).

Bentrok dengan Iran
Di zaman modern, insiden paling sering adalah bentrok aparat keamanan Arab Saudi dengan para demonstran asal Iran. Kehadiran para demonstran merupakan perintah dari pemerintah Iran agar para jemaah haji Iran menyampaikan protes terhadap kerajaan Saudi.

Kerusuhan terparah terjadi pada 31 Juli 1987 yang menewaskan 401 orang. Di antaranya adalah 275 warga Iran, 85 warga Arab Saudi, dan 42  jemaah haji asal negara lain. Sebanyak 643 orang terluka, kebanyakan adalah jemaah haji Iran.

Perseteruan antara Arab Saudi dengan Iran sudah berlangsung relatif lama. Dimulai saat Muhammad bin Abdul Wahhab, ulama Salaf kenamaan Arab Saudi, memerintahkan penghancuran beberapa makam yang dikultuskan umat Islam di Hejaz, termasuk makam ulama Syiah Al-Baqi, pada tahun 1925.

Tindakan ini tidak ayal membuat marah pemerintahan dan rakyat Iran yang mayoritas Syiah.  Kemelut pun dimulai, Iran menyerukan penggulingan pemerintahan di Arab Saudi dan melarang seluruh warga Iran pergi haji pada tahun 1927.

Ketegangan bertambah parah setelah pada tahun 1943, pemerintah Arab Saudi memenggal kepala seorang jemaah haji Iran karena membawa kotoran manusia di pakaiannya ke dalam Masjidil Haram di Mekkah.
Iran protes keras dan melarang warganya pergi haji hingga tahun 1948.

Sejak saat itu, demonstrasi jemaah haji Iran terus dilakukan di Mekkah. Ini berkat imbauan Ayatullah Khomeini pada tahun 1971 yang memerintahkan setiap jemaah haji Iran untuk berhaji sambil menyampaikan pandangan politik mereka terhadap pemerintah Arab Saudi. Para jemaah Iran menyebut demonstrasi ini dengan nama “Menjaga Jarak dengan Para Musryikin.”

Pada tahun 1982, situasi kedua negara sempat tenang. Khomeini memerintahkan rakyatnya menjaga ketertiban dan perdamaian, tidak menyebarkan pamflet-pamflet propaganda, dan untuk tidak mengkritik pemerintahan Arab Saudi.

Sebagai balasannya, kerajaan Arab Saudi membebaskan jemaah haji Iran untuk kembali berhaji. Sebelumnya, Saudi membatasi jumlah jemaah haji asal Iran untuk menghindari konflik.

Ketegangan kembali terjadi pada Jumat, 31 Juli 1987. Para jemaah haji Iran melakukan pawai protes menentang para musuh Islam, yaitu Israel dan Amerika Serikat, di kota Mekkah. Ketika sampai di depan Masjidil Haram, mereka diblokir oleh aparat keamanan Arab Saudi, namun mereka tetap memaksa masuk.
Bentrokan berdarah kemudian terjadi yang mengakibatkan situasi kacau dengan beberapa orang terinjak-injak oleh massa yang panik.

Ada beberapa versi pemicu kematian ratusan orang pada insiden ini. Pemerintah Iran mengatakan, aparat keamanan Saudi melepaskan tembakan ke arah demonstran damai, sementara Arab Saudi mengatakan bahwa korban tewas akibat terjepit dan terinjak jemaah yang panik. Akibat hal ini, hubungan kedua negara kembali renggang dan pemerintah Arab Saudi kembali menerapkan pembatasan jemaah haji Iran.

Mahdi Palsu
Peristiwa berdarah lainnya terjadi pada 20 November 1979. Kala itu ratusan orang bersenjata menguasai Masjidil Haram dan menyandera puluhan ribu jemaah haji di dalamnya.

Penyanderaan dipimpin oleh Juhaimin Ibnu Muhammad Ibnu Saif al-Otaibi yang mengatakan saudara iparnya, Muhammad bin Abd Allah Al-Qahtani, adalah Imam Mahdi atau sang penyelamat Akhir Zamann.

Dilaporkan sebanyak 400-500 militan Otaibi, termasuk di dalamnya wanita dan anak-anak, mengeluarkan senjata yang mereka sembunyikan di balik baju dan merantai gerbang Masjidil Haram. Mereka memerintahkan para jemaah untuk tunduk kepada Mahdi palsu, Al-Qahtani. Penyanderaan berlangsung selama dua minggu, sebelum akhirnya para militan diberantas oleh pasukan bersenjata gabungan antara Arab Saudi dengan beberapa negara.

Pasukan Arab Saudi sempat dipukul mundur karena hebatnya persenjataan para militan. Seluruh warga Mekkah dievakuasi ke beberapa daerah.

Pasukan kerajaan siap melakukan gempuran mematikan. Namun, mereka harus meminta izin dari ulama besar Arab Saudi, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, yang telah  melarang segala jenis kekerasan di Masjidil Haram. Akhirnya dia mengeluarkan fatwa penyerangan mematikan untuk mengambil alih Ka’bah.

Dilaporkan 255 jemaat haji dan militan Otaibi tewas dalam penyerangan tersebut, sebanyak 560 orang terluka. Dari sisi tentara Arab Saudi, sebanyak 127 tewas dan 451 terluka.

Berbagai cerita berbeda mengisahkan saat-saat penyerangan oleh tentara gabungan Arab Saudi, Pakistan dan Perancis.

Salah satu laporan mengatakan tentara membanjiri Masjidil Haram dengan air dan mengalirinya dengan listrik, menyetrum para militan. Laporan lainnya mengatakan para tentara menggunakan gas beracun. Pasukan Perancis dipanggil karena pasukan Arab Saudi tidak berdaya.

Tentara Perancis ini dikabarkan menjadi Muslim dahulu sebelum masuk Masjidil Haram. Langkah ini mereka lakukan lantaran Masjidil Haram hanya boleh dimasuki oleh umat Muslim. Allahu a’lam. (berbagai sumber/al-ikhwan17)

Daru An Nadwah,Saksi Besar Rencana Jahat Terhadap Rasulullah




Di sekitar Ka'bah, ada beberapa rumah yang mengandung nilai sejarah tinggi dalam masa perjalanan Islam. Rumah-rumah tersebut berkaitan dengan perjuangan Rasulullah SAW, baik yang digunakan untuk berdakwah maupun yang digunakan untuk membuat rencana busuk mencelakakan beliau.

Salah satu rumah di sekitar Ka'bah ada yang dijadikan tempat bagi para kafir Quraisy untuk menyusun rencana jahat pada Nabi Muhammad SAW. Rumah tersebut diberi nama Daru An-Nadwah.

Secara etimologi, Daru An-Nadwah berarti rumah tempat berkumpul atau bermusyawarah. Daru An-nadwah adalah sebuah majelis tempat bertemunya para pembesar kafir Quraisy di Kota Makkah, tepatnya berada di dekat Masjidil Haram. Rumah ini adalah tempat untuk memusyawarahkan sesuatu urusan bangsa Quraisy. Lembaga ini dibangun oleh Qusay bin Kilab.

Di tempat ini, lahir keputusan-keputusan yang dilegitimasi bersama, misalnya keputusan perihal pengangkatan pemimpin Quraisy, peperangan, keputusan haji, perdagangan hingga perjalanan bisnis.

Ketika Islam lahir di Makkah, lembaga inilah yang menjadi sentral keluarnya keputusan yang menentang, menghadap, dan menghalangi dakwah Nabi Muhammad SAW. Suatu ketika, mereka menyebut Hari Zahmah, dimana banyak sekali orang hadir yang memenuhi ruang di Daru An-Nadwah. Mereka bersepakat merencanakan hal terburuk bagi Nabi Muhammad SAW.
Diantara mereka ada yang mengusulkan agar Muhammad SAW dipenjarakan di jeruji besi kuat dan pintunya dikunci rapat-rapat. Ada yang mengusulkan agar Muhammad SAW diusur dari Makkah, bahkan ada yang menginginkan supaya Muhammad SAW dibunuh secara bersama-sama.

Ketika kafir Quraisy bersepakat melakukan hal itu, Paman Nabi Muhammad SAW Abu Thalib langsung cepat-cepat memberitahukannya kepada beliau. Namun Abu Thalib terhenyak karena Muhammad SAW sudah terlebih dahulu mengetahuinya. Tak lama kemudian, atas perintah dari Allah SWT, Malaikat Jibril menyuruh Rasulullah SAW segera keluar dan pergi sementara meninggalkan Makkah. Sahabat Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib menggantikan posisi beliau di tempat tidurnya.

Di masa Khalifah Umar bin Khattab, beliau mengunjungi Daru An-Nadwah dan mengubah rumah tersebut menjadi tempat berwudhu bagi para jamaah haji. Pada zaman khalifah Dinasti Abbasiyah, tepatnya di masa pemerintahan Al-Mu'tadid, rumah tersbut dimasukkan ke dalam bagian Masjidil Haram. Untuk mengingat letak rumah tersebut, maka dibuatlah sebuah pintu masuk masjid dengan nama Bab Daru An-Nadwah.(republika.co.id)

Kaum Quraisy Dan Yahudi Bertanya Tentang Riwayat Dzulqarnain.




Kisah tersebut menjadi refleksi betapa Dzulqarnain adalah seorang Mukmin yang bertauhid, penyayang, dan tidak menyimpang dari jalan keadilan. Sifat-sifat tersebut membuatnya mendapat perhatian khusus dari Allah SWT. Sebab, sosoknya adalah sahabat bagi para budiman dan pembuat kebajikan, namun musuh bagi para perusak dan budak kejahatan.

Kebesaran Dzulqarnain tersebut juga telah dikenal sebagian kalangan sebelum Alquran diturunkan ke bumi. Oleh karena itu, kaum Quraisy atau Yahudi pernah menanyakan hal tersebut kepada Nabi Muhammad SAW. 

Sebagaimana Allah SWT telah berfirman, "Mereka menanyakan kepadamu tentang Dzulqarnain." (QS al-Kahfi [18]: 83). Kendati sifat-sifatnya diuraikan, namun Alquran memang tidak menyebutkan atau menjelaskan secara terperinci perihal siapa sebenarnya Dzulqarnain atau ke mana saja dia menjelajah.

Menurut Dr Yusuf Qardhawi, kisah Dzulqarnain melukiskan tentang contoh seorang raja saleh yang diberi kekuasaan di bumi, meliputi belahan timur dan barat, oleh Allah SWT. Segenap manusia dan penguasa negara tunduk pada kekuasaannya. Kendati demikian, Dzulqarnain tetap istikamah sebagai seorang yang taat dan bertakwa kepada Allah SWT.

Hal ini tergambar ketika dia membangun benteng untuk kaum dhaif yang ketakutan kepada bangsa Ya'juj dan Ma'juj. "Dzulqarnain berkata, ini (benteng) adalah suatu rahmat dari Tuhanku. Maka, apabila sudah tiba janji Tuhanku, Dia pun akan menjadikannya rata dengan bumi (hancur lebur). Dan janji Tuhanku itu adalah benar." (QS al-Kahfi: 98)

Yusuf Qardhawi menilai, terdapat tujuan tersendiri mengapa Allah SWT meriwayatkan kisah Dzulqarnain dalam Alquran. Salah satunya adalah sebagai contoh dan pelajaran kepada seluruh manusia di bumi. Yakni agar mereka tidak congkak dan angkuh ketika memiliki kekuasaan yang besar di tangannya.

Terlebih lagi, dengan kekusaannya tersebut, ia menyepelekan dan mendustakan Allah SWT. Kisah seperti Dzulqarnain telah difirmankan oleh Allah SWT, "Sesungguhnya kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal." (QS Yusuf: 111).(republika.co.id)