Recent Tube

Wisata

Berita Ekonomi

Favourite

Event

Culture

Gallery

Proses Masuk dan Berkembangnya Pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia


Bagaimana proses masuknya hindu-buddha di Indonesia yang telah menjadi sejarah-sejarah Indonesia, sehingga dapat berkembang dan menyebar mentode-metode apa yang digunakannya dalam proses penyebaran pengaruh hindu-buddha sehingga masyarakat indonesia dapat memeluk agama hindu-buddha. Tidak mungkin masyarakat Indonesia atau kerajan-kerajaan beraliran hindu-budda muncul atau lahir begitu langsung memeluk agama hindu-buddha pasti ada yang menyiarkan atau menyebarkan pengaruhnya sehingga masyarakat indonesia dapat menganut agama hindu-buddha dan itu memerlukan proses-proses atau langkah-langkah yang harus dilakukan dalam penyiaran hindu-buddha di Indonesia, apa yang melatar belakangi yang membuat agama hindu-buddha di Indonesia. 

A.Proses Masuk dan Berkembangnya Hindu-Budha di Indonesia

Pada permulaan tarikh masehi, di Benua Asiaterdapat dua negeri besar yang tingkat peradabannyadianggap sudah tinggi, yaitu India dan Cina. Keduanegeri ini menjalin hubungan ekonomi danperdagangan yang baik. Arus lalu lintas perdagangandan pelayaran berlangsung melalui jalan darat danlaut. Salah satu jalur lalu lintas laut yang dilewatiIndia-Cina adalah Selat Malaka. Indonesia yangterletak di jalur posisi silang dua benua dan duasamudera, serta berada di dekat Selat Malaka memiliki keuntungan, yaitu:
  • Sering dikunjungi bangsa-bangsa asing, seperti India, Cina, Arab, dan Persia,
  • Kesempatan melakukan hubungan perdaganganinternasional terbuka lebar.
  • Pergaulan dengan bangsa-bangsa lain semakin luas. 
  • Pengaruh asing masuk ke Indonesia, seperti Hindu-Budha. Keterlibatan bangsa Indonesia dalam kegiatanperdagangan dan pelayaran internasional menyebabkan timbulnya percampuran budaya. India merupakan negara pertama yang memberikan pengaruh kepada Indonesia, yaitu dalam bentuk budaya Hindu. 
Ada beberapa hipotesis yang dikemukakan para ahli tentang proses masuknya budaya Hindu-Buddha ke Indonesia.
  • Hipotesis Brahmana Hipotesis ini mengungkapkan bahwa kaum brahmana amat berperan dalam upaya penyebaran budaya Hindu di Indonesia. Para brahmana mendapat undangan dari penguasa Indonesia untuk menobatkan raja dan memimpin upacara-upacara keagamaan. Pendukung hipotesis ini adalah VanLeur.
  • Hipotesis Ksatria Pada hipotesis ksatria, peranan penyebaran agama dan budaya Hindu dilakukan oleh kaum ksatria. Menurut hipotesis ini, di masa lampau di India sering terjadi peperangan antar golongan  masyarakat. Para prajurit yang kalah atau jenuh menghadapi perang, lantas meninggalkan India. Rupanya, diantara mereka ada pula yang sampai ke wilayah Indonesia. Mereka inilah yang kemudian berusaha mendirikan koloni-koloni baru sebagai tempat tinggalnya. Di tempat itu pula terjadi proses penyebaran agama dan budayaHindu. F.D.K. Bosch adalah salah seorang pendukung hipotesis ksatria.
  • Hipotesis Waisya Menurut para pendukung hipotesis waisya, kaum waisya yang berasal dari kelompok pedagang  dalam menyebarkan budaya Hindu ke Nusantara. Para pedagang banyak berhubungan dengan para penguasa beserta rakyatnya. Jalinan hubungan itu telah membuka peluang bagi terjadinya proses penyebaran budaya Hindu. N.J.Krom adalah salah satu pendukung dari hipotesis waisya.
  • Hipotesis Sudra, Von van Faber mengungkapkan bahwa peperangan yang tejadi di India telah menyebabkan golongan sudra menjadi orang buangan.  mereka kemudian meninggalkan India dengan mengikuti kaum waisya. Dengan jumlah yang besar, diduga golongan sudralah yang memberi andil dalam penyebaran budaya Hindu ke Nusantara.
Selain pendapat di atas, para ahli menduga banyak pemuda di wilayah Indonesia yang belajar agama Hindu dan Buddha ke India. Di perantauan mereka mendirikan organisasi yang disebut Sanggha. Setelah memperoleh ilmu yang banyak,mereka kembali untuk menyebarkannya. Pendapat  semacam ini disebut Teori Arus Balik.

AGAMA HINDU
Agama Hindu berkembang di India pada ± tahun 1500SM. Sumber ajaran Hindu terdapat dalam kitabsucinya yaitu Weda. Kitab Weda terdiri atas 4 Samhitaatau “himpunan” yaitu:
  • Reg Weda, berisi syair puji-pujian kepada paradewa.
  • Sama Weda, berisi nyanyian-nyanyian suci.
  • Yajur Weda, berisi mantera-mantera untuk upacara keselamatan.
  • Atharwa Weda, berisi doa-doa  penyakit.
Di samping kitab Weda, umat Hindu juga memiliki kitab suci lainnya yaitu: Kitab Brahmana, berisi ajaran tentang hal-hal sesaji dan Kitab Upanishad, berisi ajaran ketuhanan dan makna hidup.

Agama Hindu menganut polytheisme (menyembahbanyak dewa), diantaranya Trimurti atau “Kesatuan Tiga Dewa Tertinggi” yaitu:
  • Dewa Brahmana, sebagai dewa pencipta.
  • Dewa Wisnu, sebagai dewa pemelihara dan pelindung.
  • Dewa Siwa, sebagai dewa perusak.
Selain Dewa Trimurti, ada pula dewa yang banyak dipuja yaitu Dewa Indra pembawa hujan yang sangat penting untuk pertanian, serta Dewa Agni (api) yang berguna untuk memasak dan upacara-upacara keagamaan. 
Menurut agama Hindu masyarakat dibedakan menjadi 4 tingkatan atau kasta yang disebut Caturwarna yaitu:
  1. Kasta Brahmana, terdiri dari para pendeta.
  2. Kasta Ksatria, terdiri dari raja, keluarga raja, dan bangsawan.
  3. Kasta Waisya, terdiri dari para pedagang, dan buruh menengah.
  4. Kasta Sudra, terdiri dari para petani, buruh kecil,dan budak.Selain 4 kasta tersebut terdapat pula golongan pharia atau candala, yaitu orang di luar kasta yang telah melanggar aturan-aturan kasta. Orang-orang Hindu memilih tempat yang dianggap suci misalnya, Benares sebagai tempat bersemayamnya Dewa Siwa serta Sungai Ganggayang airnya dapat mensucikan dosa umat Hindu,sehingga bisa mencapai puncak nirwana.

AGAMA BUDDHA
Agama Buddha diajarkan oleh Sidharta Gautama di India pada tahun ± 531 SM. Ayahnya seorang raja bernama Sudhodana dan ibunya Dewi Maya. Buddha artinya orang yang telah sadar dan ingin melepaskan diri dari samsara.Kitab suci agama Buddha yaitu Tripittaka artinya “Tiga Keranjang” yang ditulis dengan bahasa Poli.  Adapun yang dimaksud dengan Tiga Keranjang adalah:
1.Winayapittaka : Berisi peraturan-peraturan danhukum yang harus dijalankan oleh umat Buddha.2.Sutrantapittaka : Berisi wejangan-wejangan atauajaran dari sang Buddha.3.Abhidarmapittaka : Berisi penjelasan tentangsoal-soal keagamaan.Pemeluk Buddha wajib melaksanakan Tri Dharma atau“Tiga Kebaktian” yaitu:
  1. Buddha yaitu berbakti kepada Buddha.
  2. Dharma yaitu berbakti kepada ajaran-ajaran Buddha.
  3. Sangga yaitu berbakti kepada pemeluk-pemeluk Buddha.Disamping itu agar orang dapat mencapai nirwana harus mengikuti 8 (delapan) jalan kebenaran atau Astavidha yaitu:1.Pandangan yang benar.2.Niat yang benar.3.Perkataan yang benar.4.Perbuatan yang benar.5.Penghidupan yang benar.6.Usaha yang benar.7.Perhatian yang benar.8.Bersemedi yang benar.
Karena munculnya berbagai penafsiran dari ajaranBuddha, akhirnya menumbuhkan dua aliran dalamagama Buddha yaitu: Buddha Hinayana, yaitu setiap orang dapatmencapai nirwana atas usahanya sendiri.dan Buddha Mahayana, yaitu orang dapat mencapainirwana dengan usaha bersama dan saling membantu.
Pemeluk Buddha juga memiliki tempat-tempat yangdianggap suci dan keramat yaitu :
  1. Kapilawastu, yaitu tempat lahirnya Sang Buddha.
  2. Bodh Gaya, yaitu tempat Sang Buddha bersemedidan memperoleh Bodhi.
  3. Sarnath/ Benares, yaitu tempat Sang Buddhamengajarkan ajarannya pertama kali.
  4. Kusinagara, yaitu tempat wafatnya Sang Buddha.

B.Pengaruh Hindu Budha Di Indonesia

Masuknya pengaruh unsur kebudayaan Hindu-Buddha dari India telah mengubah dan menambah khasanah budaya Indonesia dalam beberapa aspek kehidupan.
Tersebarnya agama dan kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia berpengaruh luas dalam kehidupan masyarakat Indonesia, diantaranya dalam bidang berikut ini :

1.Kepercayaan
Bangsa Indonesia mulai menganut agama Hindudan Budha walaupun tidak meninggalkan kepercayaan aslinya, seperti pemujaan terhadap roh nenek moyang.

2.Sosial
Dalam bidang sosial, terjadi bentuk perubahan dalam tata kehidupan sosial masyarakat. Misalnya dalam masyarakat Hindu diperkenalkan adanya sistem kasta.

3.Ekonomi
Dalam bidang ekonomi, tidak begitu besar pengaruh dan perubahannya, karena masyarakat Indonesia telah mengenal aktifitas perekonomian melalui pelayaran dan perdagangan jauh sebelum masuknya pengaruh Hindu-Budha.

4.Kebudayaan
Pengaruh kebudayaan Hindu-budha terlihat dari hasil-hasil kebudayaan seperti bangunan candi, seni sastra, berupa cerita-cerita epos diantaranya Epos Mahabharata dan Epos Ramayana. Pengaruh lainnya adalah sistem tulisan. Kebudayaan Hindu-Budha amat berperan memperkenalkan sistem tulisan di masyarakat Indonesia.

5. Agama
Ketika memasuki zaman sejarah, masyarakat diIndonesia telah menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Masyarakat mulai menerima sistem kepercayaan baru, yaitu agama Hindu-Buddha sejak berinteraksi dengan orang-orang India. Budaya baru tersebut membawa perubahan pada kehidupan keagamaan, misalnya dalam hal tata krama, upacara-upacara pemujaan, dan bentuk tempat peribadatan. 

6. Pemerintahan
Sistem pemerintahan kerajaan dikenalkan oleh orang-orang India. Dalam sistem ini kelompok-kelompok kecil masyarakat bersatu dengan kepemilikan wilayah yang luas. Kepala suku yang terbaik dan terkuat berhak atas tampuk kekuasaan kerajaan. Oleh karena itu, lahir kerajaan-kerajaan,seperti Kutai, Tarumanegara, dan Sriwijaya.

7. Arsitektur
Salah satu tradisi megalitikum adalah bangunan punden berundak-undak. Tradisi tersebut berpadu dengan budaya India yang mengilhami pembuatan bangunan candi. Jika kita memperhatikan Candi Borobudur, akan terlihat bahwa bangunannya berbentuk limas yang berundak-undak. Hal ini menjadi bukti adanya paduan budaya India-Indonesia.

8. Bahasa
Kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia meninggalkan beberapa prasasti yang sebagian besar berhuruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta.Dalam perkembangan selanjutnya bahkan hingga saat ini, bahasa Indonesia memperkaya diri dengan bahasa Sanskerta itu. Kalimat atau kata-kata bahasa Indonesia yang merupakan hasil serapandari bahasa Sanskerta, yaitu Pancasila, DasaDharma, Kartika Eka Paksi, Parasamya Purna karya Nugraha, dan sebagainya.

9. Sastra
Berkembangnya pengaruh India di Indonesia membawa kemajuan besar dalam bidang sastra.Karya sastra terkenal yang mereka bawa adalah kitab Ramayana dan Mahabharata. Adanya kitab-kitab itu memacu para pujangga Indonesia untuk menghasilkan karya sendiri. Karya-karya sastrayang muncul di Indonesia adalah : 
  • Arjunawiwaha, karya Mpu Kanwa,
  • Sutasoma, karya Mpu Tantular, 
  • Negarakertagama, karya Mpu Prapanca.

C.Kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Budha di Indonesia

a.  Kerajaan Hindu/Buddha di Kalimantan
  • Kerajaan Kutai
b.  Kerajaan Hindu/Buddha di Jawa
  • Kerajaan Salakanagara (150-362)
  • Kerajaan Tarumanegara (358-669)
  • Kerajaan Sunda Galuh (669-1482)
  • Kerajaan Kalingga
  • Kerajaan Mataram Hindu
  • Kerajaan Kadiri (1042 – 1222)
  • Kerajaan Singasari (1222-1292)
  • Kerajaan Majapahit (1292-1527)
c.  Kerajaan Hindu/Buddha di Sumatra
  • Kerajaan Malayu Dharmasraya
  • Kerajaan Sriwijaya

D.  Peninggalan Hindu-Buddha di Indonesia
Peninggalan sejarah kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Budha di daerah-daerah Indonesia umumnya berupa seni bangunan (candi,petirtaan/pemandian, benteng, gapura), seni rupa (relief, dan patung), serta karya sastra.
1. SENI BANGUNAN
a.  Candi
1) Candi Peninggalan Kerajaan Mataram Lama
Candi yang bersifat Hindu
  • Candi Gunung Wukir, terletak di sebelah selatan Muntilan
  • Kelompok Candi Dieng, terletak di Kabupaten Wonosobo. Dikelompok candi ini terdapat beberapa candi yang oleh penduduk setempat diberi nama tokoh wayang,misalnya : Bima, Gatotkaca, Puntadewa,Arjuna, Semar, dan lain-lain
  • Candi Selogriyo, terletak di kaki Gunung Sumbing
  • Candi Pringapus, terletak di timur GunungSundoro
  • Kelompok Candi Gedong Songo, terletak dilereng Gunung Ungaran
  • Candi Perot, terletak di lereng Gunung Sumbing
  • Candi Argopuro, terletak di lereng Gunung Sumbing
  • Candi Ijo, terletak di dekat Prambanan
  • Candi Gebang, terletak di dekat Yogyakarta
  • Candi Sambisari, terletak di dekat Yogyakarta
  • Kelompok Candi Lorojonggrang ( Prambanan), terletak di perbatasan Yogyakarta-Klaten.Di
  • kelompok ini ada 3 candi induk, Candi Syiwa,Candi Brahma, dan Candi Wisnu.
Candi yang bersifat Budha, bercorak budha,bermitologi budha, bernuansa arsitektur budhadan ajaran budha :
  • Candi Borobudur, terletak di KabupatenMagelang
  • Candi Kalasan, terletak di kabupatensleman. Dibangun oleh Raja Panangkaran.
  • Candi Sari, terletak di dekat Candi Kalasan.
  • Candi Banyunibo, terletak di dekatPrambanan.
  • Candi Sajiwan, terletak didekat Prambanan.Candi ini untuk menghormat Awalokiteswara.
  • Candi Plaosan, terletak di dekat prambanan.Dibangun pada masa Raja Pikatan
  • Candi Sewu, terletak didekat Prambanan
  • Candi Bubrah, terletak didekat Prambanan
  • Candi Lumbung, terletak didekat Prambanan
  • Candi Asu, terletak didekat Candi Sewu
  • Candi Ngawen, terletak di dekat Muntilan.Candi ini dibuat oleh raja yang beragamaHindu, dan diperuntukan untuk umat yangberagama Budha
  • Candi Mendut, terletak di kabupatenMagelang. Di dalamnya terdapat PAtungPadmapani dan Wajrapani
  • Candi Pawon (Bajranalan), terletak dikabupaten Magelang. Di bangun olehPramodhawardhani.
2) Candi Peninggalan Kerajaan Medang(Dinasti Isyana)
  • Candi Lor (Anjuk Ladang),terletak di Brebek,Nganjuk.
  • Candi Gunung Gangsir, terletak di di Bangil.
  • Candi Songgoroti, terletak di Batu Malang
  • Candi Sumber Nanas, terletak di Blitar
  • Candi Belahan, dibangun oleh Raja Airlingga
  • Pertapaan Pucangan, terletak di GunungPenanggungan
3) Candi Peninggalan Kerajaan Sriwijaya
  • Kelompok Candi Muara Takus, terletak diBangkinang, Tampar, Riau
  • Kelompok CAndi Gunung Tua, terletak dipadang sidempuan, Tapanuli, Sumatra Utara.
  • Di kelompok ini ada 1 candi yang bentuknyakhas, yaitu Candi Biaro Bahal
4) Candi Peninggalan Kerajaan Singasari
  • Candi Kidal, terletak di Malang
  • Candi Jawi, terletak di dekat Pringen
  • Candi Singasari, terletak di Malang
  • Candi Jago, terletak di Malang
5) Candi Peninggalan kerajaan Majapahit
  • Candi Simping
  • Candi Rimbi, terletak di Mojokerto
  • Candi Panggih
  • Candi Surawana, terletak di Kediri
  • Candi Tigawangi, terletak di Pare
  • Candi Kalicilik, terletak di Blitar
  • Candi Jabung, terletak di Kraksaan,Probolinggo
  • Candi Pari, terletak di Porong
  • Candi Tikus, terletak di Mojokerto
  • Candi Brahu, terletak di Mojokerto
  • Candi Panataran, terletak di Blitar
  • Candi Sukuh, terletak di Karanganyar. Candi ini menunjukan unsure Jawa asli
  • Candi Samentar, terletak di Blitar
6) Candi Peninggalan Kerajaan Kanjuruhan
  • Candi Badut, terletak di Malang
7) Candi Peninggalan Kerajaan Bali
  • Kompleks Candi Gunung Kawi, terletak di Tampaksiring
b. Berupa Prasasti
– Yupa (batu bertulis) Peniggalan Kerajaan Kutai- Prasasti Canggal (732 M), Prasasti Kalasa (778M), Prasasti Karang Tengah (824 M), Prasasti
Argapura (963 M), Merupakan Sumber Sejarah yang mengungkapkan Keberadaan Kerajaan Mataram Kuno.- Tujuh Prasasti Peninggalan Kerajan TarumaNegara, 5 ditemukan di Bogor, 1 di Cilincing,dan 1 di Lebak Banten, yaitu Prasasti Ciaterun,Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Cianten, danPrasasti Lebak.-Prasasti Anjuk Ladang beramngka tahun 937 M sumber Sejarah yang mengungkapkann keberadaan MpuSindok (raja pertama Medang dan pendiri Dinasti Isyana )Prasasti-prasasti sebagai sumber sejarahKerajaan Sriwijaya di Sumatra , Berangka pada tahun 684-775 M , Antara lain P. Kedudukan Bulat , P. Talang Tuwo , P. Telayu Batu Kecil , P.Kota , P.Karang Berahi .

c. Pertirtaan
Pertirtaan merupakan pemandian suci untuk raja dan para bangsawan.Contoh petirtaan yang penting adalah :
  • Petirtaan Jalatunda, terletak di lereng barat Gunung Pananggungan. Dibangun pada masa pemerintahan Raja Airlangga
  • Pertirtaan Belahan, terletak di lereng timur Gunung Pananggungan. Dibangun pada masa pemerintahan Raja Airlangga
  • Pertirtaan di Candi Tikus, terletak di Trowulan, Mojokerto
  • Petirtaan Gua Gajah, terletak di Gianyar, Bali
  • Petirtaan Tirta Empul. Terletak di desa Manukaya, Tampaksiring, Bali.
d. Benteng
Istana kerajaan umumnya dibangun di balik benteng yang kuat Benteng ada 2 macam, yaitu :
  • Benteng Buatan, dibangun dengan sengajaberwujud tembok, parit yang dalam dan ebar
  • Benteng alam, yamg berwujud sungai ataupegunungan. Contoh benteng alam adalah
  • Benteng yang terdapat di Bukit Ratu Boko yangdikenal dengan nama Candi Ratu Boko. Candiini dibangun oleh Balaputradewa.
e. Gapura
Ada 2 macam bentuk gapura :
Kori Agung, yaitu berupa bangunan seperti candi yang di tengahnya terdapat pintu untuk keluar masuk. Contoh Kori Agung, antara lain :Candi Jedong, Candi Plumbangan, dan Candi Bajang Ratu

2.  SENI RUPA
Berupa Relief. Relief adalah hasil seni pahat sebagai pengisi bidang pada dinding candi
  1. Relief Candi Borobudur. karmawibbhangga, pada kaki candi, sebab akibat perbuatan baik / buruk manusia. jatakamala-awadana, dinding lorong 1,2 perbuatan sang budha, bodhisatva dan gandawyudha-badhracari, dinding 2-4,usaha sudana mencara ilmu yang tinggi sampai ia bersumpah mengikuti bodhisatva,samantharbhadra
  2. Relief Candi Lorojonggrang Cerita ramayana, pada dinding serambi atas candi sywa dan candi brahmana. Carita kresnayana, pada pagar candi wisnu. Relief candi jajaghu, mamuat cerita kresnayana, partayajna, kunjarakarna. 1 kalikita jumpai punokawan. Relief candi surowono, memuat cerita arjunawiwaha, adegan sritanjung yang dibunuholehsidapaksa. dan Relief candi panataran, memuat cerita ramayana, kresnayana.
3.  SENI PATUNG
  1. Peninggalan Bercorak Hindu.:
  • Patung Dewa-Dewi : trimurti (dalam wujudmaha guru, mahakala, mahabirawa), durga .
  • Patung Airlangga, dalam wujud dewa wisnu menunggang garuda 
  • Patung Kendedes, wujud dewiprajnaparamita 
  • Patung Kertanegara, wujud joko dolok danamonghapasa 
  • Patung Kertajasa, wujud dewa sywa 
  • Patung Dwarapala, wujud raksasa menggenggam gada
  1. Peninggalan Patung Budha
  • Arca Aksobhya, sikap bumi sparcamudra /tangan sentuh bumi sebagai saksi, hadap timur
  • Arca Ratnasambhawa, sikap waramudra/memberi anugerah, selatan.
  • Arca Amitaba, sikap dayana mudra /bersemedi, barat.
  • Arca Amogasidhi, sikap abaya mudra /tangan menentramkan,utara.
  • Arca Wairicana, sikap darmacakara mudra /tangan memutar roda darma,di dalam stup

Tari Kecak Merupakan Tarian Tradisional Bali


Kecak adalah pertunjukan tarian seni khas Bali yang lebih utama menceritakan mengenai Ramayana dan dimainkan terutama oleh laki-laki. Tarian ini dipertunjukkan oleh banyak (puluhan atau lebih) penari laki-laki yang duduk berbaris melingkar dan dengan irama tertentu menyerukan "cak" dan mengangkat kedua lengan, menggambarkan kisah Ramayana saat barisan kera membantu Rama melawan Rahwana. Namun, Kecak berasal dari ritual sanghyang, yaitu tradisi tarian yang penarinya akan berada pada kondisi tidak sadar, melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur dan kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat.
Para penari yang duduk melingkar tersebut mengenakan kain kotak-kotak seperti papan catur melingkari pinggang mereka. Selain para penari itu, ada pula para penari lain yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana seperti Rama, Shinta, Rahwana, Hanoman, dan Sugriwa. Lagu tari Kecak diambil dari ritual tarian sanghyang. Selain itu, tidak digunakan alat musik. Hanya digunakan kincringan yang dikenakan pada kaki penari yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana.




Asal Mula Tari Kecak
Menurut sumber sejarah yang ada, Tari Kecak ini di ciptakan pada tahun 1930 oleh seniman Bali bernama Wayan Limbak dan Walter Spies seorang pelukis dari Jerman. Tarian ini terinpirasi dari ritual sanghyang dan bagian-bagian cerita Ramayana. Ritual sanghyang sendiri merupakan tradisi tarian dimana penarinya berada dalam kondisi tidak sadar dan melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat. Nama Tari Kecak sendiri diambil kata “cak..cak..cak” yang sering diteriakan para anggota yang mengelilingi para penari, Sehingga tarian ini dikenal dengan nama Tari Kecak.

Pertunjukan Tari Kecak

Dalam pertunjukannya, tarian diawali dengan pembakaran dupa, lalu para rombongan pengiring memasuki panggung sambil mengumandangkan kata “cak..cak.. cak”. Kemudian mereka membentuk sebuah barisan melingkar, yang di tengah-tengahnya digunakan untuk menari. Dalam pertunjukan Tari Kecak ini penari memerankan lakon-lakon dalam cerita Ramayana, seperti Rama, Shinta, Rahwana, dan tokoh-tokoh lainnya. Gerakan dalam tarian ini tidak terlalu terpaku pada pakem, sehingga penari lebih luwes dalam bergerak dan fokus pada jalan cerita saja. Kadang-kadang ada juga beberapa adegan lucu yang diperagakan para penarinya. Selain itu beberapa adegan yang atraktif juga ditampilkan seperti permainan api dan atraksi lainnya. hal inilah yang membuat Tari Kecak memiliki kesan sakral namun juga menghibur.

Pengiring Tari Kecak

Tari Kecak ini merupakan salah satu kesenian drama tari yang sangat unik. Berbeda dengan kesenian pada umumnya, dalam pertunjukan Tari Kecak tidak menggunakan alat musik apapun. Tari Kecak ini hanya diiringi oleh suara teriakan anggota yang mengelilingi penari dan suara kerincing yang diikatkan di kaki para penarinya. Untuk anggota pengiring suara tersebut biasanya terdiri dari 50 orang atau lebih. Dalam anggota pengiring tersebut juga terdiri dari anggota yang bertugas sebagai, pengatur nada, penembang solo, dan Dalang yang mengatur jalannya cerita.

Busana Tari Kecak

Dalam pertunjukannya penari menggunakan kostum sesuai dengan lakon yang diperankannya. Kostum ini hampir sama dengan Wayang Wong, namun dengan gaya khas Bali. Sedangkan para pengiring biasanya hanya menggunakan celana hitam dan kain bermotif kotak-kotak berwarna hitam putih. Selain itu beberapa aksesoris seperti bunga yang diselipkan di salah satu telinga mereka.

Mengenal Ragam Ketoprak Sebagai Seni Budaya Indonesia


Ketoprak adalah sejenis seni pentas drama tradisional yang diyakini berasal dari Surakarta dan berkembang pesat di Yogyakarta, oleh karena itu kesenian ini sering disebut sebagai Ketoprak Mataram. Pada awal mulanya, ketoprak menggunakan iringan lesung (tempat menumbuk padi) yang dipukul secara berirama sebagai pembuka, iringan saat pergantian adegan, dan penutup pertunjukan sehingga terkenal disebut sebagai Ketoprak Lesung. Dalam perkembangannya, Ketoprak kemudian menggunakan iringan gamelan jawa, dan penggarapan cerita maupun iringan yang lebih rumit.
Tema cerita dalam sebuah pertunjukan ketoprak bermacam-macam. Biasanya diambil dari cerita legenda atau sejarah Jawa, meski juga ada cerita fiksi. Banyak pula diambil cerita dari atau berseting luar negeri (yang terkenal adalah cerita sampek engtay). 

Jenis Ketoprak

1.  Ketoprak Lesung, seni pertunjukan ketoprak di Pulau Jawa dengan iringan lesung.
2.  Ketoprak Mataram, seni pertunjukan ketoprak di Pulau Jawa dengan iringan gamelan; 
Ketoprak Mataram adalah sejenis seni pentas drama tradisional yang menggunakan iringan gamelan jawa yang berkembang di wilayah Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan sebagian Jawa Timur. Ketoprak ini diyakini merupakan pengembangan dari Ketoprak Lesung, yang dianggap sebagai awal mula terbentuknya kesenian ketoprak. 
Salah satu ciri khas dari seni pertunjukan ini adalah penggunaan keprak. Keprak dalam pertunjukan kethoprak adalah semacam kentongan dari kayu yang dipukul oleh sutradara/penata adegan dalam setiap pergantian adegan. Ritme cepat dan lambatnya suara keprak akan disesuaikan dengan adegan yang dimainkan, misal untuk adegan perang maka suara keprak akan dipukul lebih cepat dan keras.
Ciri khas lainnya adalah penggunaan tembang macapat atau nyanyian yang menyatu dengan kelangsungan adegan. Nyanyian tersebut biasanya dilakukan pada beberapa adegan, antara lain: bage-binage atau saling salam antara raja dan bawahannya, gandrung, adegan roman, tantang-tantangan atau saling menantang saat akan dimulainya perang, atau adegan pembacaan surat.

3.  Ketoprak Dor, sebuah hiburan masyarakat Jawa Deli di Sumatera bagian Timur.
Ketoprak Dor adalah seni pertunjukan rakyat dengan gaya opera. Ketoprak Dor merupakan warisan tradisi hiburan orang-orang Jawa Deli di Sumatera bagian Timur. Seni pertunjukan ini lahir di tengah-tengah situasi perbudakan terburuk dalam sejarah Asia Tenggara dan menjadi bagian sejarah kuli kontrak di tanah Del

Ciri-ciri Ketoprak Dor
Ketoprak Dor merupakan produk asimilasi kesenian dengan kemasan yang tidak lagi 100 persen Jawa. Ada percampuran budaya seperti Melayu, India, Tionghoa dan Jawa dalam kesenian ini. Ciri khas pertunjukan ini yaitu bahasa, lakon dan musik.
Lakon-lakon yang dibawakan tidak selalu tentang kisah-kisah kepahlawanan, ksatria Jawa tetapi hikayat dari tanah Deli dan cerita keseharian yang disampaikan lewat bahasa Melayu (Indonesia). Ketoprak Dor banyak mengangkat persoalan para kuli kontrak di kawasan perkebunan. Pendekatan Ketoprak Dor tidak mengabarkan derita, melainkan dagelan (humor), sebagai semacam penawar kerinduan pada kampung halaman.
Perlengkapan alat musik pada pertunjukan ini menggunakan akordion atau harmonium (alat musik khas Melayu), keyboard, drum, bas elektrik, alat tiup dan perkusi dari tanjidor (sebagai pengiring), dan balok kayu yang dilubangi seperti kentongan. Balok kayu ini menghasilkan bunyi Prak dan Dor. Dari suara musik inilah, pertunjukan ini diberinama Ketorprak Dor.
pakaian yang digunakan terpengaruh budaya Melayu seperti penggunaan kain ikatan atau songket; budaya Timur Tengah dan India seperti kain sutra yang penuh pernak pernik; budaya Belanda dan Portugis seperti pakaian pembesar kerajaan.

Sejarah Ketoprak Dor
Ketoprak Dor lahir pada akhir abad ke-19, ketika Belanda mulai menanam tembakau. Saat itu Belanda mengusung puluhan ribu buruh perkebunan dari Jawa. Hal ini dikarenakan kuli dari India dan Tingkok tidak mencukupi, meskipun para kuli rekrutan dari Tiongkok lebih ahli karena memiliki tradisi tanam tembakau. Perlakuan brutal tuan kebun Belanda membuat jengkel dan frustasi para kuli kontrak. Situasi ini menimbulkan rasa kerinduan akan hiburan sebagai pelipur lara. Tembang dan nyanyian yang pernah didengar atau tontonan yang pernah menghibur ketika mereka masih tinggal di kampung halaman, muncul kembali dalam kenangan mereka dan berperan menjadi pereda menghilangkan rasa lara di hati.
Rasa kesepian dan kerinduan terhadap kampung halaman membuat mereka ingin bergembira dan tertawa saat menonton Ketoprak Mataram. Akhirnya mereka pun membuat sebuah pertunjukkan kesenian, meskipun menemui kesulitan dalam memadukan gerak tari, nyanyian, dialog, cerita, dan musik. Mereka menggunakan berbagai perlengkapan yang ada sebagai adaptasi dari ketoprak yang asli.

Mengenal Musik Tradisional Karawitan


Karawitan merupakan seni suara daerah baik vokal atau instrumental yang mempunyai klarifikasi dan perkembangan dari daerahnya itu sendiri. Karawitan di bagi 3, yaitu :
  • Karawitan Sekar,
  • Karawitan Gending,
  • Karawitan Sekar Gending.
Sebelum merambah pada penjelasan pembagian tiga jenis karawitan ini, perlu diketahui bahwa deskripsi karawitan berikut ini lebih difokuskan pada Karawitan Sunda.

1. Karawitan Sekar

Karawitan Sekar merupakan salah satu bentuk kesenian yang dalam penyajiannya lebih mengutamakan terhadap unsur vokal atau suara manusia. Karawitan sekar sangat mementingkan unsur vokal.

2. Karawitan Gending

Karawitan Gending merupakan salah satu bentuk kesenian yang dalam penyajiannya lebih mengutamakan unsur instrumental atau alat musik. KARAWITAN VOKAL/SEKARAN
Yang dimksud dengan karawitan vokal atau lebih dikenal dalam karawitan Sunda dengan istilah Sekar ialah seni suara yang dalam substansi dasarnya mempergunakan suara manusia. Tentu saja dalam penampilannya akan berbeda dengan bicara biasa yang juga mempergunakan suara manusia. Sekar merupakan pengolahan yang khusus untuk menimbulkan rasa seni yang sangat erat berhubungan langsung dengan indra pendengaran. Dia sangat erat bersentuhan dengan nada, bunyi atau alat-alat pendukung lainnya yang selalu akrab berdampingan

Pada kehidupan orang Sunda pada masa lalu sejak mereka lahir secara tidak langsung telah didekatkan dengan alunan sekar. Sejak mereka lahir sang ibu menimang, meninabobokan dengan menggunakan sekar. Dalam mengajak bermain, dalam tahap-tahap mulai belajar bicara, belajar berjalan, sekar sangat sering didengarkan oleh orang tua atau pengasuhnya. Itulah sebabnya lagu-lagu dalam meninabobokan atau ngayun ngambing anak selalu populer dari masa ke masa, dalam arti kelestariannya terlihat karena selalu dilakukan dari generasi ke generasi.
Seperti telah diterangkan di atas, sekar mempunyai kedudukan yang tersendiri dalam kehidupan karawitan, walaupun pada dasarnya sekar berbeda dengan bicara biasa, sekar sangat dekat bahkan terkadang sangat dominant dengan lagam bicara atau dialek. Dialek Cianjur, Garut, Ciamis, Majalengka dalam mengungkapkan percakapan seringkali seolah-olah bermelodi seperti bernyanyi. Oleh karena kesan dialek yang sangat erat itulah kiranya banyak orang luar daerah Sunda yang secara tidak langsung menyebutkan bahwa cara bicara orang Sunda seperti bernyanyi. Memang erat dengan penggunaan kata-kata di dalamnya tetapi kata-kata dalam sekar telah diolah sedemikian rupa sehingga berbentuklah penampilan secara utuh menjadi sebuah komposisi lagu. Dengan demikian, jelaslah bahwa kata dalam kedudukan sekar merupakan salah satu alat pengungkap masalah atau tema yang diketengahkan. Kata yang sama dapat diungkapkan dalam berbagai lagu/melodi, menurut kehendak rasa seni si pencipta itu sendiri. Akan tetapi tanpa disadari bahwa terkadang dalam kehidupan sekar tidak selalu dipergunakan kata secara utuh, sering terdengar suara bunyi dijadikan lagu. Hal ini sering terjadi dalam lagu-lagu tertentu, misalnya hanya mempergunakan bunyi a saja atau nang neng nong atau hm dan lain-lain. Penggunaan kata yang tidak jelas sering didapati apabila bersenandung atau ngahariring/hariring.

Dari kesimpulan itu, dapatlah ditarik beberapa hal yang sangat erat bertalian dengan sekar, yaitu: Lagam bicara dialek adalah khas daerah tertentu dalam berbicara sehari-hari yang dari ungkapannya dapat kita tarik satu garis melodi yang sangat erat bertalian dengan nada. Contoh dapat ditemukan dalam kata Punten, Masya Allah di daerah Cianjur. Khusus untuk lagam bicara ini dalam gending karesmen, sering ditemukan teknik bernyanyi dan lagu yang dipergunakan dalam dialog yang secara utuh mempergunakan lagam bicara. Hanya dalam pengungkapannya dilakukan lagam bicara. Jadi, dia berbicara dalam nada. Sifatnya kebanyakan datar atau melengking tinggi. Lagu yang demikian dikenal dengan sebutan sekar biantara (nyanyian bicara). Dalam pergelaran wayang golek sangat terasa sekali dalam memerankan/antawacana tokoh-tokoh tertentu yang selalu mempergunakan lagu bicara, sangat terasa pula dalam nyandra.
Contoh kata-kata yang sangat lekat dengan lagu dalam lagam bicara antara lain:
a) Pun……ten
b) Sorangan bae yeuh…….!
c) Tunjuk-tunjuk hey, sakali deui…hey!
Dalam pergelaran wayang golek, hal ini akan terasa pada tokoh Semar, misalnya pada biantara di bawah ini:
Aduh aduh ngeran
Sumangga ieu abdi lurah Semar Kudapawana nyanggakeun sembah pangbakti
Ageung alit kalepatan mugia ngahapunten, Ngeran……..
Beberapa sebutan yang berkaitan dengan sekaran

1.1. Ngahariring (Senandung)
Sifat dari ngahariring biasanya dibawakan secara halus sekali, pemakaian kata dalam lagu lebih menonjol kata bunyi. Pengertian halus disini lain sekali dengan dinamika lagu. Halus dalam membawakan hariring adalah makna dari sikap yang cenderung bernyanyi untuk diri sendiri. Ngahariring dalam kehidupan sehari-hari sangat erat hubungannya dengan pengisi jiwa sambil bekerja. Ngahariring dapat bersifat improvisasi ataupun lagu yang telah ada. Kata bekerja lain dari ngaharirirng adalah bersenandung dengan volume suara yang halus, lunak agar penampilannya itu tidak berisik sehingga mengganggu orang lain. Sering pula hal ini terjadi bila seseorang sedang mempelajari lagu yang belum dikuasai. Suasana ngahariring timbul lebih cenderung dalam keadaan gembira sambil bekerja. Dalam penampilannya, ngahariring dapat saja menjadi lain, hal ini tergantung dari kalimat yang dipergunakan.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ngahariring adalah bernyanyi hanya ungkapannya lebih dalam untuk diri sendiri atau dengan kata lain kesannya lebih subjektif.

1.2. Ngahaleuang
Pada dasarnya ngahaleuang berarti bernyanyi. Haleuang berarti nyanyian/sekar. Kalau dilihat dari sifat penyajiannya ngahaleuang terasa lebih terbuka, lebih keluar dan lantang. Jadi, pengaruh terhadap surupan itu sendiri sangat kuat sekali. Lagu-lagu Tembang sangat jarang ditafsirkan sebagai ngahaleuang. Dilihat dari tempo lagu, biasanya istilah ngahaleuang banyak mempergunakan tempo sedang.

1.3. Galindeng
Kata Galindeng erat sekali dengan sekar, bahkan sering sekali menunjukan arti suara dari seorang penyanyi yang biasanya lebih tepat pada suara-suara yang empuk, halus. Ngagalindeng artinya suara (nyanyian) yang dibawakan secara penuh perasaan, terutama pada suara-suara (bagian melodi) yang penuh dengan mamanis (kembangan-kembangan)

1.4. Babaung
Penempatan kata babaung adalah tahap kata yang kasar untuk bernyanyi. Biasanya kalau suaranya tidak enak atau membetulkan agar nyanyiannya dilakukan yang benar. Itu pun terbatas pada kelakar atau sindiran tertentu saja, dilakukan pada orang yang lebih muda atau sesama yang sudah akrab.

1.5. Kakawihan dan Tetembangan
Walaupun pada dasarnya Tembang dan Kawih berbeda lagam, pengertian kakawihan dan tetembangan mempunyai arti yang sama. Kakawihan atau Tetembangan ialah menyanyikan lagu dengan cara-cara seenaknya, cenderung mengisi suasana untuk diri sendiri. Sebagai contoh ketika sedang mandi, sedang berdandan, melakukan pekerjaan dan lain-lain. Lagunya yang telah hapal atau sering pula diberi improvisasi-improvisasi spontan.


3. Karawitan Sekar Gending

Karawitan Sekar Gending adalah salah satu bentuk kesenian yang dalam penyajiannya terdapat unsur gabungan antara karawitan sekar dan gending
Pengertian dari karawitan itu sendiri secara khusus dapat diartikan sebagai Seni Musik Tradisional yang terdapat di seluruh wilayah etnik Indonesia.
Penyebaran seni karawitan terdapa di Pulau Jawa, Sumatra, Madura dan Bali. Karawitan memainkan alat musik bernama gamelan, sebagai contoh Gamelan Pelog/Salendro, Gamelan Cirebon, Gamelan Degung dan Gamelan Cianjuran (untuk bentuk sajian ensemble/kelompok). Dalam praktiknya, karawitan biasa digunakan untuk mengiringi tarian dan nyanyian, tapi tidak tertutup kemungkinan untuk mengadakan pementasan musik saja.